Pengambilan keputusan dalam memilih peminatan hingga program studi tujuan yang diambil siswa SMA bisa membentuk arah hidupnya di kemudian hari. Sudahkah sekolah membantu mereka terkait hal ini?
Bayangkan terdapat seorang siswa Y, siswa tahun terakhir di SMA yang selalu masuk tiga besar dan sangat menguasai pelajaran fisika dan matematika. Ketika tiba waktunya penjurusan, gurunya menyarankan untuk masuk ke program studi yang berkaitan dengan ilmu-ilmu pengetahuan alam, orang tuanya setuju, dan teman-teman dekatnya mengambil pilihan yang sama. Ia pun yakin dengan kemampuannya karena melihat mata pelajaran yang dikuasainya. Setahun kemudian, ia berkuliah di program studi pilihannya tersebut dan diam-diam bertanya pada dirinya sendiri: sebenarnya aku berkuliah di sini karena aku suka atau sekadar karena aku bisa? Apakah aku salah jurusan?
Cerita seperti ini bukan hal langka. Kita sering mendengar istilah "salah jurusan" di jenjang kuliah, seolah kekeliruannya baru terjadi saat mahasiswa mengisi formulir pendaftaran. Padahal, jika ditelusuri mundur, benih itu sudah tertanam sejak SMA.
Siswa diminta membuat keputusan yang konsekuensinya panjang, yaitu memilih mata pelajaran pilihan atau arah peminatan, yang kemudian menyempitkan pintu menuju program studi tertentu. Keputusan tersebut harus diambil dengan waktu yang sempit saat pemahaman siswa tentang dirinya sendiri masih sangat terbatas. Pengambilan keputusan untuk melanjutkan sekolah dari tingkat menengah ke jenjang berikutnya relatif tidak dipikirkan secara matang oleh remaja (Mulyana & Suendarti, 2021).
Dalam kondisi tersebut, siswa, guru, dan orang tua cenderung berpegang pada data yang paling mudah terlihat, yaitu nilai rapor. Akan tetapi, nilai tinggi di satu mata pelajaran tidak otomatis menumbuhkan minat yang kuat di bidang itu. Bisa saja seorang siswa menguasainya karena rajin belajar, cepat dan terbiasa menangkap pola soal, atau hal-hal lain yang membuatnya mampu mengerjakan soal dan memeroleh nilai yang tinggi. Sedangkan di sisi lain, mata pelajaran yang ia sukai tidak selalu diwujudkan dengan nilai rapor paling tinggi.
Ketika Pilihan Siswa Dipengaruhi Hal Lain
Selain nilai, ada beberapa faktor yang sering diam-diam ikut menentukan. Pertama, perspektif terhadap program studi. Program studi tertentu dianggap “untuk anak yang jago matematika”, “untuk anak yang terampil menggambar”, dan lain sebagainya. Label ini bisa membuat siswa mencoret pilihan yang sebenarnya cocok tanpa pernah menimbangnya secara serius. Kedua, harapan orang tua dan pilihan orang terdekat sering lebih berpengaruh daripada refleksi pribadi. Meskipun demikian, hal ini cukup wajar karena siswa sebagai anak remaja memang sedang membangun identitasnya dengan banyak bercermin pada orang lain. Ketiga, media sosial terlalu memaparkan gambaran karier yang tentunya memperluas wawasan, tetapi di satu sisi juga bisa membentuk ketertarikan pada citra sebuah profesi, bukan pada pekerjaan sehari-harinya.
Minat pada Usia Remaja
Minat di usia remaja masih dalam proses berkembang. Apa yang dinyatakan siswa hari ini bisa berubah setelah ia mencoba banyak hal. Oleh karena itu, bertanya kepada siswa, “kamu mau ambil kuliah apa?” atau meminta siswa mengisi kolom cita-cita belumlah cukup.
Teori Holland menawarkan kerangka tipologi sederhana dan mudah dipahami mengenai minat dan lingkungan karier, dengan menghasilkan informasi yang berguna untuk membantu individu lebih memahami diri mereka sendiri (Yusuf & Hasnidar, 2020). Informasi mengenai minat dari teori Holland ini membantu individu dalam membuat pilihan. Temuan ini didukung oleh Choi et al. (2015) yang menunjukkan adanya hubungan antara bimbingan karier dan minat siswa. Pemberian informasi oleh pendidikan karier membantu siswa untuk menemukan jalur karier masa depan mereka untuk mereka pilih. Hal tersebut dapat memotivasi siswa dalam pengembangan karier dan berdampak positif terhadap prestasi akademik.
Membaca Minat dan Profil Psikologis Siswa
Pemetaan minat melalui asesmen psikologi yang berdiri sendiri hanya akan memberi satu potongan profil. Hasil asesmen akan jauh lebih bermakna bila dibaca bersama aspek-aspek lain, seperti aspek kognitif, kepribadian, dan gaya belajar. Kemampuan kognitif menunjukkan area kekuatan dan area yang perlu perhatian, yang kadang berbeda dari kesan nilai rapor. Kepribadian memberi petunjuk tentang lingkungan dan gaya kerja yang cenderung cocok bagi siswa. Gaya belajar menunjukkan bagaimana siswa biasa menghadapi tuntutan akademik, dan apakah arah yang dipilih sejalan dengan kebiasaan itu.
Bayangkan apabila siswa Y pada awal cerita memiliki kemampuan numerik yang memang kuat, tetapi minatnya lebih condong pada aktivitas yang melibatkan orang lain dan bekerja dengan gagasan sosial. Informasi itu tidak otomatis menyuruhnya pindah jalur peminatan. Tetapi, percakapan antara dirinya, guru BK, dan orang tuanya akan berlangsung dengan bahan yang jauh lebih kaya apabila disertai dengan hasil pemeriksaan profil psikologisnya melalui asesmen yang dilakukan kepadanya.
Penting untuk digarisbawahi bahwa asesmen bukan alat untuk memvonis atau melabeli. Keputusan akhir tetap milik siswa. Yang bisa dilakukan asesmen adalah memastikan keputusan itu diambil dengan pemahaman diri yang lebih baik dan pemikiran yang lebih matang.
Referensi
Choi, Y., Kim, J., & Kim, S. (2015). Career Development and School Success in Adolescents: The Role of Career Interventions. The Career Development Quarterly, 63(2), 171–186. https://doi.org/10.1002/cdq.12012
Mulyana, Y., & Suendarti, M. (2021). Pengaruh pengetahuan awal dan minat terhadap prestasi belajar Ilmu Pengetahuan Sosial siswa SMA Negeri di Kabupaten Cirebon. Herodotus: Jurnal Pendidikan IPS, 4(1), 78-85.
Yusuf, R. M., & Hasnidar, H. (2020). Work-family conflict and career development on performance of married women employees. International Journal of Research in Business and Social Science (2147-4478), 9(1), 151–162. https://doi.org/10.20525/ijrbs.v9i1.601
