Psikologi

Belajar Tidak Maksimal? Berkenalan dengan Learning Style!

15 September 2026

Felder-Silverman Learning Style Model (FSLSM)

Menjawab fenomena ini, Felder dan Silverman (1988) membuat model gaya belajar yang bertujuan agar pengajar dapat merancang kegiatan pembelajaran yang efektif dengan memerhatikan keberagaman gaya belajar pesertanya. Gaya belajar sendiri merujuk pada klasifikasi preferensi peserta didik mengenai bagaimana cara mereka menerima dan mengolah informasi. Terdapat empat dimensi gaya belajar beserta tipe preferensinya, yakni:

1. Perception -> Jenis informasi apa yang lebih disukai peserta? • Sensory: observasi, fakta, data, dan eksperimen. • Intuitive: prinsip, konsep, dan teori yang bersifat abstrak.

2. Input -> Melalui jalur sensori mana informasi eksternal lebih efektif diserap? • Visual: gambar, diagram, grafik, dan contoh langsung. • Verbal: mendengar penjelasan dan membaca.

3. Processing -> Cara seperti apa yang lebih disukai peserta untuk mengolah informasi? • Active: mempraktikan langsung dan berdiskusi aktif. • Reflective: merenungkan, memikirkan, dan menghayati informasi.

4. Understanding -> Bagaimana peserta berkembang menuju pemahaman? • Sequential: memahami informasi secara berurutan tahap demi tahap. • Global: memahami informasi secara garis besar dan holistik.

Meningkatkan Efektivitas Pembelajaran dengan FSLSM

Sebelumnya sempat disinggung bahwa FSLSM ini dapat membantu meningkatkan efektivitas pembelajaran. Namun, secara praktis, bagaimana cara menerapkannya?

Penerapan FSLSM tentunya dapat disesuaikan dengan kebutuhan dan indikator keberhasilan pembelajaran. Akan tetapi, yang paling utama, tim pengajar perlu melakukan asesmen terhadap peserta terlebih dahulu dengan menggunakan alat ukur Gaya Belajar yang valid dan reliabel. Asesmen dapat dilakukan baik secara berkelompok maupun individual, sesuai dengan kebutuhan. Setelah data terkumpul, metode pembelajaran baru dapat ditentukan berdasarkan hasil asesmen. Berikut rekomendasi metode pembelajaran yang sesuai dengan masing-masing tipe gaya belajar:

1. Perception • Sensory: Studi kasus data nyata, praktikum, dan demonstrasi eksperimen. • Intuitive: Pemodelan konsep, problem-based learning, dan skenario what-if.

2. Input • Visual: Perbanyak penggunakan mind map, flow chart, dan visual storytelling. • Verbal: Perbanyak diskusi terstruktur, debat, dan penugasan berbasis teks (modul).

3. Processing • Active: Role-playing dan focus group discussion. • Reflective: Journaling dan silent pause (memberi waktu untuk berpikir sejenak).

4. Understanding • Sequential: Pemberian modul berjenjang dan lembar kerja checklist. • Global: Big picture orientation dan simulasi end-to-end.

Kendati demikian, perlu dicatat bahwa metode-metode di atas hanya sebagian kecil contoh dan rekomendasi. Sangat disarankan untuk menyesuaikan kembali dengan konten materi yang akan dijadikan pembelajaran.

Perhatikan Ini Saat Menerapkan FSLSM!

Meskipun dapat membantu meningkatkan efektivitas pembelajaran, penerapan konsep FSLSM yang tidak tepat justru akan berdampak buruk pada peserta didik. Felder dan Spurlin (2005) memberikan beberapa catatan mengenai bagaimana seharusnya FSLSM digunakan:

1. Profil gaya belajar hanya menyajikan kecenderungan perilaku, bukan memprediksi perilaku secara mutlak. Tidak ada individu yang murni sensory ataupun intuitive. Seseorang bisa cenderung sensory saat menghadapi situasi tertentu, dan juga bisa menjadi intuitive saat disajikan materi tertentu.

2. Alat ukur gaya belajar bukan digunakan untuk menguji kelemahan dan kekuatan belajar, melainkan terbatas pada penggunaan untuk memberikan gambaran mengenai gaya belajar yang lebih disukai oleh peserta pada situasi tertentu.

3. Tipe gaya belajar bukanlah label mutlak yang membuat pengajar harus selalu menyesuaikan gaya mengajarnya. Informasi mengenai gaya belajar peserta kadang kali bisa dijadikan acuan untuk perlahan memancing peserta keluar dari zona nyamannya. Misalnya, apabila pengajar ingin mengajarkan materi dengan teori dan konsep yang rumit dan terdapat informasi bahwa sebagian besar peserta cenderung sensory, pengajar dapat memberikan banyak contoh terapan nyata dari teori tersebut sebelum akhirnya benar-benar membahas teorinya.

Secara keseluruhan, Felder dan Spurlin (2005) menghimbau untuk tidak memandang model gaya belajar sebagai label individu yang bersifat kaku. Mereka juga menekankan bahwa penerapan paling utama dari model gaya belajar ini adalah untuk membantu merancang pembelajaran yang efektif dan adaptif terhadap preferensi gaya belajar yang dimiliki peserta didik.

Referensi

Felder, R. M., & Silverman, L. K. (1988). Learning and Teaching Styles In Engineering Education. Engr. Education, 78(7), 674–681.

Felder, R. M., & Spurlin, J. (2005). Applications, Reliability and Validity of the Index of Learning Styles. 21(1), 103–112. https://doi.org/10.1037/t43782-000