Key Points:
1. Laki-laki lebih unggul kemampuan matematikanya dibandingkan perempuan
2. Perempuan lebih unggul kemampuan verbalnya dibandingkan laki-laki
3. Kemampuan intelegensi secara umum pada gender
Faxtorians pernah mendengar atau membaca tidak di sosial media “Laki-laki lebih unggul dalam bidang matematika dibandingkan perempuan” atau “Perempuan lebih unggul pada bidang bahasa dibandingkan laki-laki” Dengan adanya stereotype ini, tak jarang terjadinya kesenjangan antar gender dan memandang remeh satu sama lain. Maka dari itu, yuk kita bahas lebih lanjut mengenai hal ini!
Stereotype 1:
Laki-laki lebih unggul dalam bidang matematika dibandingkan perempuan. Tidak jarang kita mendengar bahwa kecerdasan seseorang diukur berdasarkan dari kemampuan matematikanya. Lalu juga muncul stereotype yang mengatakan bahwa laki-laki lebih unggul kemampuan matematikanya dibandingkan perempuan, apakah dengan hal ini membuat perempuan menjadi tidak lebih pintar dari laki-laki? Dan apakah benar laki-laki lebih unggul dalam matematika?
Pada jurnal Novitasari (2017), ia membahas mengenai teori fungsional asimetri pada otak manusia yang dimana dalam memecahkan masalah melibatkan dua bagian otak; otak kanan dan otak kiri. Otak kiri berhubungan dengan kemampuan berpikir yang logis, kemampuan dalam berhitung, dan kemampuan secara verbal. Otak kanan berhubungan dengan kemampuan berpikir secara visual dan ruang. Novitasari (2017) juga mengutip Geary, Saults, Liu (2000) pada penelitian yang dilakukan Tsani (2012) bahwa terdapat penelitian yang mengatakan faktor gender memengaruhi dalam memecahkan permasalahan seperti matematika, hal ini dikarenakan adanya perbedaan biologis dalam otak laki-laki dan perempuan. Dalam penelitian yang dilakukan Novitasari (2017) mendapatkan hasil bahwa dalam menyelesaikan permalasahan matematika baik secara visual spasial maupun logis matematis, siswa perempuan mendapatkan hasil yang lebih baik dibandingkan siswa laki-laki.
Selain itu, terdapat juga penelitian yang dilakukan oleh Penner (2008) yang di mana ia menemukan bahwa tidak hanya faktor biologis dan genetik, tetapi faktor sosial juga mempengaruhi kemampuan matematika seseorang. Hasil dari penelitian Penner (2008) adalah laki-laki disetiap negara memiliki skor rata-rata yang lebih tinggi dibandingkan perempuan, tetapi besar skor sangatlah bervariasi sehingga ini membuktikan bahwa lingkungan juga memiliki peran penting dalam kemampuan matematika seseorang. Pada penelitiannya, Penner (2008) juga mengatakan bahwa banyak yang mengasumsikan bahwa laki-laki memiliki variabilitas yang lebih besar dalam prestasi matematikanya tetapi Penner (2008) menemukan bahwa di beberapa negara perempuan memiliki variabilitas yang lebih besar dibandingkan laki-laki.
Stereotype 2:
“Perempuan lebih unggul pada bidang bahasa dibandingkan laki-laki” Selain streotype mengenai laki-laki lebih unggul dalam bidang matematika, terdapat juga stereotype yang membahas mengenai kemampuan verbal perempuan lebih unggul dibandingkan laki-laki. Lalu, apakah hal ini berhubungan dengan pembahasan di atas?
Denno (1982) mengatakan bahwa perempuan lebih unggul dalam kemampuan verbalnya dibandingkan laki-laki yang di mana pada umur 10-11 kemampuan bahasa perempuan semakin meningkat. Lalu, di tahun 1986 Halpen menyetujui hal yang sama. Hyde dan Marcia (1988) menemukan bahwa kemampuan verbal pada perempuan berdasarkan umur dan tipe dari kemampuannya, seperti reading comprehension, perempuan yang masih duduk di bangku SD memiliki kemampuan yang lebih baik dibandingkan laki-laki. Pada jurnal Novitasari (2017), ia mengutip dari Santrock yang mengatakan bahwa laki-laki lebih unggul dalam matematika sedangkan perempuan lebih unggul dalam kemampuan verbalnya.
Pada penelitian yang dilakukan oleh Syzmanowicz A & Furnham A (2011) mendapatkan hasil bahwa hasil keseluruhan pada beberapa intelegensi seperti spasial, matematika, laki-laki mendapatkan skor yang lebih tinggi, tetapi pada kemampuan verbal tidak terdapat perbedaan antara laki-laki dan perempuan. Perbedaan gender dalam kemampuan verbal sebenarnya bergantung pada jenis kemampuan verbal. Laki-laki cenderung unggul dalam anologi verbal (Colom et., al, 2004) dan perempuan cenderung unggul dalam kemampuan bahasa secara natural, membaca, dan menulis.
Kemampuan intelegensi secara umum
Pada penelitian yang dilakukan oleh Pakkenbarg dan Gundersen (1997) menyatakan bahwa ada perbedaan jumlah rata-rata neuron neokorteks antara perempuan dan laki-laki dan Kecerdasan manusia memiliki kaitan yang erat dengan kompleksitas neuron, aksi potensial kinetik, dan transfer informasi yang efisien dalam neuron kortikal (Goriunova dkk, 2018). Namun, pada penelitian Zaidi (2010) menyatakan bahwa tidak ada perbedaan kecerdasan antara laki-laki dan perempuan hanya saja cara kerja otak yang berbeda yang dimana laki-laki dan perempuan menggunakan bagian otak yang berbeda.
Dari pembahasan di atas dapat kita simpulkan bahwa sebenarnya streotype yang selama ini kita dengar tidak sepenuhnya benar. Nyatanya, perempuan dan laki-laki memiliki tingkat kecerdasan yang sama dalam bidang apapun, tak hanya dalam kemampuan dalam matematika maupun kemampuan verbal. Hal yang mempengaruhi hanyalah bagaimana cara individu tersebut menyelesaikan permasalahan yang kompleks dan apakah lebih dominan otak kanan atau otak kiri. Selain itu, faktor sosial juga sebenarnya dapat mempengaruhi intelegensi seseorang. Walaupun terdapat beberapa teori maupun penelitian yang mengatakan bahwa adanya perbedaan. Namun, jika kita simpulkan secara keseluruhan tidak ada perbedaan yang signifikan antara kemampuan verbal maupun kemampuan matematika pada perempuan dan laki-laki.